Rabu, 26 April 2017

(BUKAN) PANTAI LOSARI

     Tadi pas ngopi bareng temen-temen iseng2 cek ig. Tiba-tiba liat di timeline ada postingan videonya Mba Imelda Akmal tentang Pantai Losari. Beliau adalah seorang architectural writer. Tulisan-tulisannya banyak menghiasi majalah-majalah populer di Indonesia misalnya Archinesia. Ini dia orangnya. Cantik, ya?

     Trus dia sering posting-posting gitu tentang arsitektur di tempat-tempat yang pernah dia kunjungi. Nah, kali ini dia kebetulan sedang berkunjung ke Makassar untuk menghadiri Architecture Convention di Hotel Four Point. Di postingannya itu dia ngasih beberapa kritik tentang Panlos yang udah direvitalisasi oleh Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto. Berikut ini videonya. Cekidot gan!!

revitalisasi yang dilakukan Pak Dany (sapaan Mohammad Ramdhan Pomanto) membuat Pantai Losari lebih rekreatif. Ada permainan kontur dan pembagian blok-blok serta pemasangan sculpture yang melambangkan ciri khas kota Makassar. Intinya kawasan Panlos dibuat lebih moderen. Tetapi selain kelebihan-kelebihan itu ada juga kekurangannya dari segi arsitektural.



Sebuah pantai dalam benak kita pasti mempunyai pesisir dengan butiran pasir yang membentang disepanjang pantai, puluhan kerang yang bersandar, dan turis-turis yang sedang berjemur menikmati panas matahari. Dalam hal ini Pantai losari juga mempunya pesisir pantai. Bedanya pesisir yang ada di Pantai Losari ini bercampur dengan semen yang sangat bersahabat bagi kendaraan-kendaraan beroda, Untuk manusia? Masih perlu dipertanyakan.

Disekitar Pantai Losari yang terdapat hanya kerasan-kerasan  yang dilapisi oleh tegel, pedagang terompet dan pemuda-pemuda labil yang bermesraan dimalam hari sambil memandangi sebagian laut yang telah ditimbun pasir (reklamasi) didepan mereka.

Selain itu, desain Pantai Losari yang sudah menjadi icon kota Makassar ini, dalam hasil observasi kami ternyata tidak ramah bagi kaum disablitas dan anak. Seperti yang dikutip oleh penulis majalah Archinesia, Imelda Akmal dan juga sempat disinggung oleh Akbar Hantar, salah seorang arsitek muda di Indonesia.

Apa indahnya laut tanpa pesisir? Apa indahnya laut dengan pemandangan lahan yang direklamasi? Dan apa nikmatnya ketika anak sedang bermain tiba-tiba kepalanya benjol terbentur kerasan yang terdapat di Pantai Losari?

Beda lagi ketika kita melihat disudut pandang  sosial. Mari kita sejenak menengok permasalahan sosial yang ada di icon kota Makassar tersebut. Apa itu? Seperti yang ditulis salah seorang blogger asal Makassar, Daeng Gassing diblognya yang mengatakan bahwa disepanjang kawasan Pantai Losari juga masih rawan aksi premanisme. Dimana setiap orang yang berdagang disepanjang Pantai Losari selalu dimintai uang “preman” (dipalak) bahkan mahasiswa yang sedang melakukan aksi penggalangan dana ditempat itu juga kena imbasnya.

Sebagai mahasiswa arsitektur dan warga yang tinggal di Makassar, kami sadar betul bahwa kita harus turut ikut andil dalam memajukan kawasan pariwisata yang sudah menjadi salah satu tujuan liburan wisatawan. Bukan dengan demo anarkis, tapi mari kita suarakan “keresahan” itu mulai dengan hal-hal kecil dibidang kita masing-masing, seperti dengan menulis diblog ini misalnya.