Trus dia sering posting-posting gitu tentang arsitektur di tempat-tempat yang pernah dia kunjungi. Nah, kali ini dia kebetulan sedang berkunjung ke Makassar untuk menghadiri Architecture Convention di Hotel Four Point. Di postingannya itu dia ngasih beberapa kritik tentang Panlos yang udah direvitalisasi oleh Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto. Berikut ini videonya. Cekidot gan!!
revitalisasi yang dilakukan Pak Dany (sapaan Mohammad Ramdhan Pomanto) membuat Pantai Losari lebih rekreatif. Ada permainan kontur dan pembagian blok-blok serta pemasangan sculpture yang melambangkan ciri khas kota Makassar. Intinya kawasan Panlos dibuat lebih moderen. Tetapi selain kelebihan-kelebihan itu ada juga kekurangannya dari segi arsitektural.
Sebuah pantai dalam benak kita pasti mempunyai pesisir dengan butiran
pasir yang membentang disepanjang pantai, puluhan kerang yang bersandar, dan
turis-turis yang sedang berjemur menikmati panas matahari. Dalam hal ini Pantai
losari juga mempunya pesisir pantai. Bedanya pesisir yang ada di Pantai Losari
ini bercampur dengan semen yang sangat bersahabat bagi kendaraan-kendaraan
beroda, Untuk manusia? Masih perlu dipertanyakan.
Disekitar Pantai Losari yang terdapat hanya kerasan-kerasan yang dilapisi oleh tegel, pedagang terompet dan pemuda-pemuda labil yang bermesraan dimalam hari sambil memandangi sebagian laut yang telah ditimbun pasir (reklamasi) didepan mereka.
Selain itu, desain Pantai Losari yang sudah menjadi icon kota Makassar
ini, dalam hasil observasi kami ternyata tidak ramah bagi kaum disablitas dan
anak. Seperti yang dikutip oleh penulis majalah Archinesia, Imelda Akmal dan
juga sempat disinggung oleh Akbar Hantar, salah seorang arsitek muda di
Indonesia.
Apa indahnya laut tanpa pesisir? Apa indahnya laut dengan pemandangan
lahan yang direklamasi? Dan apa nikmatnya ketika anak sedang bermain tiba-tiba
kepalanya benjol terbentur kerasan yang terdapat di Pantai Losari?
Beda lagi ketika kita melihat disudut pandang sosial. Mari kita sejenak menengok
permasalahan sosial yang ada di icon kota Makassar tersebut. Apa itu? Seperti
yang ditulis salah seorang blogger asal Makassar, Daeng Gassing diblognya yang
mengatakan bahwa disepanjang kawasan Pantai Losari juga masih rawan aksi
premanisme. Dimana setiap orang yang berdagang disepanjang Pantai Losari selalu
dimintai uang “preman” (dipalak) bahkan mahasiswa yang sedang melakukan aksi
penggalangan dana ditempat itu juga kena imbasnya.
Sebagai mahasiswa arsitektur dan warga yang tinggal di Makassar, kami
sadar betul bahwa kita harus turut ikut andil dalam memajukan kawasan
pariwisata yang sudah menjadi salah satu tujuan liburan wisatawan. Bukan dengan
demo anarkis, tapi mari kita suarakan “keresahan” itu mulai dengan hal-hal
kecil dibidang kita masing-masing, seperti dengan menulis diblog ini misalnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar