Minggu, 11 Maret 2012

Making good atmosphere in the class

Saya terseyum - senyum membaca komentar teman-teman di group fb hari ini tentang making a good atmosphere in the class yang intinya meminta solusi supaya kelas gak terlalu ribut. Ada yang komen nya lebay sampai yang super simple. Ada yang pengetikannya salah sampai yang grammarnya awut-awutan. Tapi yang sebenarnya membuat saya geli bukan itu semua. Yang lucu adalah comment-comment yg paling serius justru dari mereka yang biang ribut di kelas.

Melihat itu semua, saya jadi terpikir untuk menulis tentang masalah ini. Saya juga seringkali merasa kesal setiap ada yang ribut sementara saya sedang serius-seriusnya memperhatikan pelajaran. Bukannya saya tak pernah membuat keributan juga tapi alhamdulillah itu sangat jarang terjadi.

Di dalam penerimaan pembelajaran memang dibutuhkan konsentrasi yang tinggi. Tapi memang saya akui terlalu berat untuk bisa berkonsentrasi sepenuhnya dari awal hingga akhir pelajaran. Di samping itu juga ada faktor kejenuhan dari siswa, apalagi kalau pelajaran itu tidak di sukainya (inilah faktor dominan yang menyebabkan kelas menjadi ribut). Tapi solusinya sebenarnya gampang. Mari kita gunakan penalaran. Konsentrasi atau fokus adalah kondisi di mana pikiran kita hanya tertuju pada satu hal. Masalahnya kita tidak bisa selalu berada dalam kondisi itu. Lantas bagaimana supaya tidak berlanjut menjadi keributan ?

Ada baiknya kita menerapkan metode "Sangkar Burung" Aa Gym. Beliau menjelaskan bahwa ketika pikiran kita  mulai bercabang ke hal lain, kita harus  berhenti seketika itu juga dan kembali kepada permasalahan awal. Pikiran kita harus seperti seekor burung yang ada di dalam sangkar tertutup. jika Ia mencoba untuk terbang keluar, sangkar akan menghalanginya sehingga ia kembali ke tempatnya semula. Hal itu harus terus menerus dilakukan karena pikiran kita tertuju pada hal lain bukan cuma sekali. Ketika mulai memikirkan hal lain, kembalikan pikiran kita. Ketika mulai tidak konsentrasi, kembalikan lagi. Begitu seterusnya.Nah, hal yang seperti inilah yang kita sebut "kesadaran diri".

Lalu, mengapa pikiran kita bisa bercabang ? Hal itu tergantung pribadi masing-masing siswa. Beban pemikiran masing-masing siswa tentu berbeda. Siswa yang sudah memiliki pacar tentu akan lebih berpotensi untuk kehilangan konsentrasi dibanding yg masih jomblo. Begitupun siswa yang sangat aktif berorganisasi, siswa yang tinggal jauh dari orang tua, siswa yang terlalu sering social networking, dan sebagainya. Untuk mengatasi itu semua, tentu kembali kepada tujuan kita masing-masing. Jika tujuan kita ke sekolah murni untuk mencari ilmu pengetahuan yang berguna untuk masa depan kita, tentu tidak akan sulit bagi kita untuk berkonsentrasi. Bukan sekolah hanya untuk sekedar mendapat nilai yang bagus dan bisa lulus ujian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar