Sabtu, 28 Januari 2012

Kepergian Kakek

Siang itu, Kamis 26 Januari. Aku pulang seperti biasa dengan angkutan umum tapi dengan tujuan yang tak seperti biasanya. Aku naik angkutan umum jurusan IKIP yang sepi penumpang itu dan membawaku ke Rumah Sakit Islam Faisal di Jl. Pettarani. Sesampainya di sana, aku masih tak tahu nomor kamar yang ku tuju. Setelah bertanya sebentar, aku pun segera menuju ke tempat itu. Pintu  kamar nomor 22 itu terbuka. Dari kejauhan aku melihat Pamanku mondar mandir. Seperti  ada kesibukan di dalam sana. Memang benar. Semua aktivitas di ruangan itu ditujukan untuk sesosok lelaki tua bertubuh sangat kurusyang tampak berjuang setengah mati untuk sekedar bernafas. Ia tersengal-sengal dengan hanya mengandalkan tabung oksigen yg terhubung dengan saluran pernafasanya.  Aku shok melihat keadaannya yang seperti itu. Semua anaknya berusaha untuk mengajaknya berbicara dan mencegah Ia kehilangan kesadaran. Dengan nafas setengah-setengah Ia mencoba untuk berbicara. Walaupun agak tak jelas, namun kami berusaha untuk memahami semampunya apa yang Ia inginkan. Tiba - tiba ia mengucapkan sepatah kalimat, "OK, tapi Saya shalat dulu". Semua yang ada di ruangan itu tak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Namun Kami mengira itu adalah kalimat yang biasa saja, sekedar permintaan untuk shalat. Setelah tayammum Ia  pun mulai Shalat dengan susah payah menggunakan isyarat tangan dan kepala saja. Aku keluar sebentar untuk shalat, selain karena tak sanggup melihat pemandangan itu.  Sehabis shalat aku melihat dua orang suster keluar membawa botol infus. Perasaan was-was tiba-tiba menyergap walaupun Aku tahu mereka cuma habis mengganti botol infusnya. Saat masuk ku lihat Ibu sudah ada sisi tempat tidur sambil berusaha untuk berkomunikasi dengan Ayah yang sangat dicintainya itu. Aku tak dapat menahan rasa haru saat Ibu memohon maaf kepada Lelaki itu beserta saudara-saudaranya yang lain seolah-olah mereka tak akan pernah bertemu lagi. Bukankah permintaan maaf biasanya di ucapkan saat perpisahan ? Ibu menyuruh aku untuk mendekat ke sisinya. Ia menyuruhku menjabat tangan Lelaki Itu. Dingin rasanya. "Minta maaf sama Kakek, Nak" Kata Ibu. Aku tak sanggup membendung air mataku saat berbisik di telinganya. memoriku berputar kembali ke saat-saat aku bersama dengannya. Ia  sosok lelaki pendiam. Ia cuma banyak berbicara kalau membicarakan masalah agama atau keluarganya.. Namun seperti kebanyakan lelaki pendiam, Ia sangat perhatian. Perhatiannya itu ia tunjukkan dengan nasehat-nasehat yang lebih terdengar seperti perintah. Terkadang Aku dihinggapi kekesalan jika Ia mulai overprotected dengan terus mengingatkan apa yang harus aku lakukan walau aku sudah sangat tahu akan hal itu. Aku pun tak terlalu banyak mengobrol dengannya. Salah satu penyebabnya karena aku merasa tidak akan pernah nyambung dengan Dia. Ia sosok yang sangat perfeksionis sementara jiwa mudaku yang menuntut kebebasan selalu saja berbenturan dengan pemikirannya. Tapi sekarang, melihat keadaannya yang seperti ini, semua seakan berubah. Berbagai pertanyaan timbul dalam benakku. Sudah saatnya kah Ia pergi ? Kenapa Aku tak pernah memikirkan hal itu ? Mengapa ia tiba-tiba terserang penyakit Asma akut seperti ini sementara ia tak pernah mengidapnya sebelumnya ?

Sehabis maghrib, keadaannya sudah bertambah parah. Ia tersengal sengal memompa udara dengan paru - paru yang tinggal dibungkus tulang dan kulit. Ia dipindahkan di ruang ICU walaupun semua anaknya sudah sangat memahami bahwa inilah saatnya bagi Kami untuk melepaskan Ia pergi. Keadaannya terus memburuk hingga pukul 09.00 malam. Lima orang anaknya terus bergantian mengucapkan kalimat tahlil di telinganya. Namun keadaannya tetapsaja seperti itu. Mungkin Ia menunggu kehadiran anak bungsunya yang masih ada di Kalimantan. Mungkin setelah anak-anaknya lengkap berenam, barulah Ia aknan tenang untuk pergi.

Pukul 23.00, Kami sekeluarga memutuskan untuk membawa Lelaki itu kembali ke rumah. Bunyi sirine ambulans meraung-raung  mengiringi perjalanan Kami menuju Sinjai. Ibu tak henti - hentinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa llaah, Muhammadarrasuulullaah...  Di tengah perjalanan, tiba - tiba Ia menggerak-gerakkan kakinya. Tak lama kemudian Ia juga menggerakkan tangannya bahkan juga badannya. Ibuku terlihat gembira dengan perubahan itu. Seolah akan ada perubahan, Ibu terus berdo'a agar Ia lekas pulih. Aku pun tak henti-hentinya membaca do'a di dalam hati. Syafakallaah.. syafakallah...
Setelah melaju selama setengah waktu perjalanan normal, ambulance yg membawa
kami akhirnya sampai. Dengan susah payah 
Lelaki itu dibopong menuju kamarnya. Ya, tempat peristirahatannya di  dunia yang mungkin akan segera Ia tinggalkan.

Karena rasa kantuk dan kelelahan Aku mencoba untuk tidur sejenak. Pukul 15.42 Aku terbangun mendengar suara tangisan. Saat itu juga Aku langsung tahu apa yang telah terjadi. Sayang, Aku tak sempat "mengantarkan" Ia pergi. Ternyata kalimat yang diucapkannya di rumah sakit adalah negosiasinya dengan malaikat maut. Aku merasa tak percaya bahwa satu anggota keluarga terdekatku telah tiada. Seolah ada yang hilang dari kehidupan Kami. Aku turun dan melihat jenazahnya. Aku sering mendengar bahwa ada orang meninggal yang raut wajahnya seolah tersenyum. Namun baru sekarang lah Aku benar - benar menyaksikannya. Wajah yang penuh ketenangan menyiratkan akan sebuah senyuman. Seakan Ia akan pergi ke tempat yang telah Ia impikan. Seolah Ia akan pergi ke tempat yang membuatnya tak peduli lagi dengan dunia ini. Innaa lillaah wa innaa ilaihi raajiuun...

Telah sering Ku mendengar berita duka. Setelah mendengar Aku hanya mengucapkan innaa lilaah kemudian melupakannya. Namun kini, saat mendengar nama Lelaki itu yang disebut Aku seakan tak percaya dengan pendengaranku. Kini Ia benar-benar telah pergi. Namun entah mengapa Aku merasa Ia masih belum hilang. Walau Aku juga sudah jarang bersamanya setelah memutuskan untuk bersekolah di Makassar, namun Aku tahu baik kebiasaannya. Aku masih merasa Ia membuka pintu samping rumah untuk kemudian menuju ke masjid. Aku masih merasa Ia yang jadi imam shalat. Aku masih merasa Ia menyalakan TV dan menyimak ceramah pagi.

Orang yang palng terpukul adalah Ibuku. Di antara enam bersaudara, Ia satu-satunya anak perempuan sehingga Ia begitu disayang oleh Lelaki itu. Dengan penuh keharuan Ibu menceritakan masa kecil yang begitu bahagia Ia lewati bersamanya. Walau Aku tak pernah menyaksikannya sendiri namun Aku dapat merasakannya. Karena Aku adalah bagian dari Ibu. Setetes air matanya, adalah selaksa deritaku. Dan yang tak kalah terpukul adalah Pamanku yang masih di Kalimantan saat nyawa ayahnya putus. Ialah orang pertama yang ingin segera terbang ke Makassar setelah mendengar kabar bahwa ayahnya sakit parah. Namun kakaknya melarang karena urusan kantornya sangat lah penting. biarlah Kakak-kakaknya yang pergi terlebih dahulu mengurus sang Ayahanda. Namun kenyataannya Ia bahkan tak sempat berada di sisi ayahnya di saat-saat telakhir.

Pagi itu pagi terkelam dalam hidupku. Orang-orang mulai berdatangan melayat. Tak sampai jam 09.00 rumahku dan halamannya sudah penuh sesak dengan jamaah masjid dan kerabat-kerabat terdekat. Aku bahkan tak bisa turun di lantai bawah tempat jenazah diletakkan sementara. Sekarang baru lah Aku tahu bagaimana sebenarnya Kakekku bagi orang lain.

Ba'da Ashar barulah pamanku tiba. Seluruh keuarga mengingatkannya untuk tegar walau Ia tak kuasa menahan tangis setelah mencium jenazah ayahnya. Setelah itu, jenazahnya dimandikan dan dishalatkan. Sepupu-sepupuku tak kuasa menahan tangis melihat jenazah itu dikuburkan. Aku tak ingat kapan terakhir kali Aku menangis. Namun Aku meneteskan air mata untuk Lelaki itu. Tuhan telah memberiku tanda bahwa mulai saat ini Aku sudah harus siap untuk merelakan orang-orang yang Aku kaskihi kapan pun Ia memangil mereka.

Selamat Jalan Kakekku tercinta, H.Abd Shabir, semoga senyuman yang tersirat saat engkau menghembuskan nafas terakhirmu masih bisa ku lihat saat kita kembali bertemu diharibaan-Nya kelak. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin...

2 komentar:

  1. yyaaahh begitulah kehidupan masBro.. kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dengan kehendak tuhan. buatlah ini menjadi pelajaran Bagi kita semua untuk lebih berserah diri kepada Allah S.W.T

    BalasHapus
  2. Hal ini mengingatkan kpd kita kalo hidup itu singkat, tujuan hidup sebenarnya adalah mengupgrade keturunan dan penerus kita, kakek mu sdh lakukan itu dengan bukti eksistensimu.

    Jangan sia-siakan kesempatan itu, dia akan diingat selalu.

    BalasHapus